Islam memandang kedudukan ilmu sangatlah penting, sebagai jalan mengenal Allah dan beribadah kepada-Nya. Ilmu juga satu-satunya jalan meraih adab. Orang yang berilmu (ulama) adalah pewaris nabi. Kerana itu, dalam Bidayatul Hidayah, Imam Al-Ghazali mengingatkan, orang yang mencari ilmu dengan niat yang salah, untuk mencari keuntungan duniawi dan pujian manusia, sama saja dengan menghancurkan agama. Dalam kitabnya, Adabul ‘Alim wal-Muta’allim, KH Hasyim Asy’ari juga mengutip hadits Rasulullah saw:
“Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah atau ia mengharapkan selain keridhaan Allah Ta’ala, maka bersiaplah dia mendapatkan tempat di neraka.”
(JADIKANLAH NASIHAT INI SEBAGAI PANDUAN SEMUA ORANG, BUATLAH SEPANDUK, PAPAN TANDA, NOTA, PELEKAT CERMIN KENDERAAN, PELEKAT AGAR LEBIH RAMAI ORANG SEDAR DAN INSAF--BUATLAH PAPAN TANDA DI LOKASI-LOKASI, DI KAMPUNG, DI FELDA, FELCRA.....KALAU BOLEH BERSAMA JUGA KATA-KATA FALSAFAH (FILOSOFI) TIONGHUA, INDIA,DIPAPARKAN DENGAN PELBAGAI BAHASA, TERMASUK BAHASA JERMEN, SEPANYOL,PERANCHIS.....NASIHAT AMAT PENTING UNTUK MENYEDAR-INSAFKAN SEMUA RAKYAT.....MUDAH-MUDAHAN BOLEH DILAKSANAKAN DI PULAU PINANG, KELANTAN, SELANGOR DAN KEDAH!)
Ibnul Qayyim al-Jauziyah, murid terkemuka Syeikhul Islam Ibn Taimiyah, juga menulis sebuah buku berjudul Al-Ilmu. Beliau mengutip ungkapan Abu Darda’ r.a. yang menyatakan:
“Barangsiapa berpendapat bahwa pergi menuntut ilmu bukan merupakan jihad, sesungguhnya ia kurang akalnya.”
Abu Hatim bin Hibban juga meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah r.a., yang pernah mendengar Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa masuk ke masjidku ini untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya, maka ia laksana orang yang berjihad di jalan Allah.”
Karena begitu mulianya kedudukan ilmu dalam Islam, maka seorang yang beradab tidak akan menyia-nyiakan umurnya untuk menjauhi ilmu, atau mengejar ilmu yang tidak bermanfaat, atau salah niat dalam meraih ilmu. Sebab, akibatnya sangat fatal. Ia tidak akan pernah mengenal Allah, tidak akan pernah meraih kebahagiaan sejati. Lebih fatal lagi, jika manusia yang tidak beradab itu kemudian merasa tahu, padahal dia sebenarnya ia tidak tahu. (Jahil Murokab)